• Jam Buka Toko: 08.00 s/d 17.00
  • Status Order
  • SMS/WA: 082114740066
  • BBM : D743F8FD
  • mukena.bordirku@gmail.com
Terpopuler:

Ramadhan Terakhir….

21 April 2017 - Kategori Blog

“Demi masa, manusia benar-benar dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati untuk mentaati dalam kebenaran..” (QS-Al Asr)

2006

Tayangan di TV itu membuatku tertegun, dengan berlinang air mata Taufik Savalas tersedu-sedu ketika diwawancara wartawan tentang kegiatannya selama Ramadhan ini. Taufik bercerita seminggu yang lalu dengan sebuah bis penuh anak yatim dia mengajak mereka ke sebuah tempat wisata.

”Seneeeeng mas lihat mereka bisa main bareng, belum tentu saya dapat ketemu Ramadhan lagi tahun depan, gak bisa ngajak mereka main lagi..” katanya terbata-bata, matanya sembab, tangannya berulangkali menyeka air matanya. Taufik yang biasanya lucu di TV tiba-tiba menjadi orang yang sendu mengharu biru.

Entah apa yang ada di benak Taufik Savalas waktu itu, sehingga pertanyaan wartawan itu dia jawab hingga meneteskan air mata, seolah-olah ada sesuatu yang sangat menyentuh dirasakannya. Bulan Juli 2007 dalam perjalanan untuk shooting sebuah acara di Purbalingga, mobil yang Taufik tumpangi dihajar truk tronton bermuatan semen yang melaju kencang. Taufik meninggal bersama 2 penumpang lainnya.

Wawancara 9 bulan sebelumnya itu seperti sebuah pesan, ketika jatah waktunya di dunia sudah habis, apapun alasannya maut bisa menjemputnya dengan berbagai cara. Taufik memang tidak bertemu lagi dengan Ramadhan yang tiga bulan lagi akan menjelang. Dia pergi dengan meninggalkan nama baik, ditangisi jutaan orang yang selama ini terhibur dengan tingkah gayanya. Stand Up komedi yang dulu jadi icon dirinya, sekarang jadi acara-acara favorit di berbagai stasiun TV. Bahkan menjadi segmen wajib di berbagai acara kampus, di pesta-pesta, dan acara kumpul-kumpul lainnya.

Banyak yang kangen dengan tubuh gembulnya, canda tawa polosnya… hanya terobati dengan video-video lawas yang diakses melalui sosial media..

——————————-

2013

Tanggal 8 Juli kemarin aku mulai berpuasa ketika masuk bulan Ramadhan. Alhamdulillah aku termasuk orang yang diijinkan Allah bertemu bulan berkah di tahun ini. Ada seorang kawanku di Jakarta meninggal beberapa hari menjelang Ramadhan datang. Umurnya masih 36 tahun, dia belum menikah, kesibukannya luar biasa bekerja di sebuah stasiun televisi swasta mungkin membuatnya kelelahan. Fisiknya drop hingga ada pendarahan di otaknya, sebulan lebih di Rumah Sakit akhirnya dia menyerah. Tubuh kurus itu akhirnya tidak mampu lagi menjadi tempat hidup ruhnya. Kukirim doa dari jauh ketika aku tidak bisa menghadiri pemakamannya..

Seorang kawanku yang lain di Surabaya juga meninggal menjelang Ramadhan datang tahun ini, lama tidak bertemu, sebuah berita di twitter mengagetkanku. Badannya besar atletis, bugar seperti artis sinetron, kekar gak tampak penyakitan. Ingat dia pernah datang ke Jogja bersama kawan-kawan entrepreneur Surabaya. Lesehan di rumahku sambil menikmati diskusi sederhana siang itu. Bisnisnya pernah begitu sukses, dia tunjukan saldo milyaran di rekeningnya. Pernah sekali waktu mengisi seminar di Universitas Airlangga Surabaya, dengan suara menggelegar dia bercerita tentang bisnisnya. Allah memanggilnya hanya beberapa hari menjelang Ramadhan datang.. Stroke menghampirinya di usia yang masih 33 tahun, ditinggalkannya istri dan dua anak angkatnya. Semua kebanggaan yang dulu dia bawa kemana-mana akhirnya sirna juga. Teriring doa untuknya.. Allah melapangkan kuburnya seluas-luasnya..

Satu lagi tentang kawanku yang Allah tidak ijinkan bertemu Ramadhan tahun ini. Tahun 2005 aku mengenalnya sebagai penjaga parkir di daerah Demangan Jogja, orangnya polos, prengas prenges dengan senyum yang mengembang di bibirmu. Dia selalu menyapaku dengan sebutan “mas boss..” sesekali kuberi uang untuknya ketika berangkat kerja. Bapaknya yang pernah membantuku merenovasi Kedai Digitalku usai gempa besar melanda jogja. Lama tidak bertemu aku pun tidak lagi melihat senyum lugunya. Akhir Juni lalu aku bertemu dengan bapaknya yang juga menjadi penjaga parkir di sebuah rumah makan di Jogja. Tanganku digenggam erat ketika bersalaman, dengan terbata-bata dia bercerita kalau anaknya telah tiada, kecelakaan di jalan Solo-Jogja dekat bandara.
Kurangkul sebagai bentuk belasungkawa, tidak bisa hadir ke pemakamannya karena telat mendengar kabar itu.

Penasaran menuntunku mencari berita kecelakaan di tanggal itu, google begitu lincah diajak bekerjasama hingga aku menemukan beritanya. Dari para saksi mata yang kenal dengan korban, sehari sebelumnya dia curhat tentang nasibnya yang baru saja putus cinta. Entah apa sebabnya, dia harus rela dicampakkan kekasih hatinya, dalam kondisi putus asa dan kemungkinan besar karena pengaruh minuman keras, di tengah malam dia nekat duduk di tengah jalan jalur cepat bis antar kota.

Sebuah bis dengan kecepatan tinggi dari Surabaya melumat keras tubuhnya.. dia meninggal seketika di umurnya yang masih 31 tahun, pergi membawa kesedihan dan kekecewaan yang kita pun tidak bisa membayangkan rasa sakitnya..

Doa untuknya, semoga Allah meringankan beban di kuburnya..

Kisah tiga kawan itu seperti terus mengingatkanku, tentang jatah hidup di dunia.. seperti ada kontrak waktu dengan Allah, kapan kita dihadirkan.. kapan kita harus kembali… tidak perduli Ramadhan akan datang beberapa hari lagi jadi momen untuk bersih-bersih diri, ketika kontrak habis ya sudahlah, bulan penuh berkah berlalu sudah..

Dalam seminarku di Batam Juni lalu aku sukses membuat yang hadir menjadi terdiam dengan foto yang aku tampilkan, suasana dalam ballroom hotel itu tiba-tiba menjadi haru. Wajah orang-orang yang selama ini akrab dengan mereka di televisi, sekarang mereka tidak ada lagi..

Sebuah pertanyaan pasti, kita pun satu persatu akan muncul dalam foto kenangan yang ditempel di tembok rumah, atau dalam album tua yang jarang dibuka.

Dikenang orang-orang dengan penuh kebanggaan atau justru diingat karena keburukan yang tak berkesudahan..

Tokoh dan Artis yang sudah meninggal

——————————

Mention di twitter itu menarik perhatianku, mas Ipang Wahid memberi link youtube iklan buatannya. Sebuah iklan yang mengetuk hati tentang Ramadhan terakhir, digarap untuk perusahaan energi milik negara, dikemas dengan konsep Jawa yang menyentuh hati, momen-momen yang di alami oleh semua para perantau, pergi jauh bekerja, sekolah, hidup di tanah harapan, jauh dari orang tua dan kampung halaman.

Kisah dalam iklan berdurasi satu menit itu mungkin juga dialaminya, selaku sutradara iklan terkenal di negeri ini yang hidup dalam hiruk pikuk dan kejenuhan kota Jakarta.

Aku mengenalnya saat mengisi seminar bareng untuk santri-santri Pondok Pesantren sepulau Lombok tahun lalu.
Lain waktu aku melihat fotonya bersama ayah ibu dan saudara-saudaranya dalam bingkai yang menempel dinding, di salah satu sudut rumah di dalam kompleks Pesantren Tebu Ireng Jombang.
Lihatlah video iklan ini, rasakan ruh yang kuat di dalamnya…

Sejenak kita merenung di akhir Ramadhan ini, dengan memandang sederhana semua yang kita miliki, merasakan semua kehadiran yang sering kita lupakan..

Senyum ayah dan ibu..
Tawa ceria istri atau suami dan anak-anakmu..
Mobil di garasi yang masih baru..
Motor kesayangan yang kita gak ikhlaskan ditempeli debu..
Usaha dan bisnis yang kita banggakan, pekerjaan dan jabatan yang kemana-mana selalu kita sebutkan..
Kasur empuk, ruangan tidur yang hangat dan nyaman..
Rumah baru yang megah, jadi kebanggaan walau dilihat dari kejauhan..
Tabungan dan emas yang susah payah kita kumpulkan
Gadged canggih yang tiap hari kita genggam dan mainkan
Senyum hangat sahabat, tetangga, dan sanak saudara yang membuat kita tenteram…
Jika ini Ramadhan terakhir kita, maka semua itu akan sirna.
Ramadhan tahun depan itu semua harus kita tinggalkan

Selamat berhari raya Kawan… terus menjadi lebih baik untuk bekal abadi di alam kelanggengan..

diketik di Jogja, dibaca dimana sadja
7 Agustus 2013

Penulis: Saptuari Sugiharto (sumber)

There are no comments yet, add one below.

Berikan Komentar/Review Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Form yang wajib di isi ditandai *